v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Baju baru#2

Setelah bertanya dengan orang itu, papa segera masuk ke dalam mobil, dan langsung berjalan dengan cepat. “Pa, jangan cepat-cepat dong” ucap ku kepada papa, “iya,pa , jangan cepet-cepet, nanti ketabrak mobil lho!” tambah Hellin, “iya-iya” jawab papa sambil menurun kaan kecepatan mobil. “Nah, gitu dong….” Ucapku, “sayang, nanti kalau ketemu nenek, kamu jangan lupa salim kepada nenek, om Reza, dan tante Dinda, ya”pesan mamaku, “iya ma” jawabku.

Beberapa saat kemudian…………….

“Hellen, Hellin, wah cucu-cucu nenek sudah besar-besar ya,cantik-cantik lagi ”sambut nenek, “terima kasih nek…” jawab kami, “oh,ya, cucu-cucu  nenek suka menggambar kan?” tanya nenek, “iya nek” jawab kami berdua bersemangat karena mendengar kata”menggambar”, maklum, kami suka menggambar…., “ya sudah, ini buka sketsa, untuk kalian”kata nenek sambil menyerahkan buku sketsa. “Nenek mau kita gambarin apa?”tanya ku “menara eiffel!” jawab nenek, “sip!” jawab kami berdua. Beberapa saat kemudian gambar kami jadi deh…., mau lihat gambarnya?, kasih tahu gak ya?, gak deh, hehehehe

 

“wah, bagus-bagus gambarnya….” Ucap nenek.” , “iya,dong nek, Hellen dan Hellin!” jawab kami berdua bangga, “hahaha…., bisa saja kalian! Ya sudah,sebaiknya kalian ganti baju dan makan terlebih dahulu”jawab nenek, “iya,nek…” jawab kami.

“nek, apa menu makan hari ini?” tanya ku, “rendang paling pedas, untuk cucu-cucu nenek tesayang!” jawab nenek, “wuahh….” Aku yang mendengar itu langsung menyerbu rendang kesukaan kami berdua. “Eitsss!, tunggu tante Dinda dan om Reza dong….” Jegah mama, “oh iya….” Jawab kami.

 

Bersambung……

Oleh: akunisrina | Mei 27, 2012

Persahabatan Yang Terpisahkan

 

Di sebuah desa hiduplah dua orang sahabat sejati yang bernama Ima dan Rima merekatelah bersahabat selama kurang lebih tiga tahun.Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya yang bernama Pak Burhan.Pak Burhan sangatlah baik dan suka bergaul kepada siapa saja, “hari ini pak Burhan ke sini mau ngapain ya ima? Tanya Rima kepada Ima,hmm… mungkin mau membagi makanan kepada warga desa jawab Ima, ternyata benar Pak Burhan si saudagar kaya ingin memberi makanan kepada seluruh warga desa, ya wajar sih kalo pak Burhan hampir setiap hari memberi seluruh warga desa makanan sembako (sembilan makanan pokok) untuk makan setiap hari karena memang di desa ini sulit sekali mendapat kan makanan pokok.

 

Suatu hari Rima ingin sekali membantu ibunya bekerja untuk membiayayai bapaknya yang sedang sakit parah. Ima yang mendengar kabar tentang bapak Rima yang sedang sakit parah menjadi iba, di hati Ima muncul niat baiknya untuk membantu Rima bekerja, untuk membawa bapak Rima ke puskesmas. Tok… tok… tok… bunyi pintu diketuk oleh Ima, tunggu sebentar siapa ya ?! tanya Rima. Ini Ima sahabatmu!.. jawab Ima. Ooo…. tunggu sebentar ya !!! aku sedang mencuci nasi untuk di makan, kata Rima. Iya, beberapa menit kemudian pintu pun di buka. Ada apa Ima? Tanya Rima, tidak ada apa-apa kok,o lalu mengapa kamu ke sini? Tanya Rima aku ke sini ingin membantukamu bekerja! Jawab Ima, ooo… membantu apa? Tanya Rima. Ya membantu apa saja!. Ku dengar bapak mu sakit ya? Tanya Ima kepada Rima, iya, dari mana kamu tahu? Tanya Rima, aku tahu dari ibu mu, ibu mu bilang bapak kamu sedang sakit. Jawab Ima dengan panjang lebar. Ooo… ya sudah mendingan sekarang kamu bantu aku Ima kan katanya mau membantuku!. Oh iya-ya aku hampir saja lupa. Ya sudah sekarang kita mau kerja apa? Tanya Ima, hmm… kita membantu ibuku bekerja ke sawah saja!, ya sudah. Mari kita berangkat sekarang ajak Rima, iya ayo nanti keburu siang lagi

 

Di perjalanan menuju sawah……….

 

Huh masih jauh tidak sih Rima?, tidak kok itu didepan matamu sudah ada banyak padi kan?!. Mana – mana? Tanya Ima itu lho!. Mana sih? Rima, itu lhoooo…… oh itu tho…. iya jawab Rima yang sedikit mulai jengkel” . ayo cepat sedikit Ima kata Rima” iya-iya sebentar aku sedang membetul kan capik ku nih! Yasudah cepat sedikit! Perintah Rima.

 

Saat sampai di sawah………

 

Bu sudah selesai? Tanya Rima “iya” jawab ibu. Nih bu Rima bawakan rantang berisi nasi putih,dan rendang. Terima kasih ya nak kata ibu sama-sama jawab Rima.lho bapak mana Rima? tanya ibu. “Astagffirrollahhalazim ba.. ba…pa..pa..k, ku.. tingal bu! “. “apa….” kata ibu histeris.Dan langsung pingsan pada saat ibu Rima mengatakan apa ibu Rima langsung pingasan!. “I…b…u”!! kata Rima yang beteriak panik dan mengagetkan Ima dan seluruh orang yang bekerja di sawah siang itu.Ada apa sih ima? Tanya ima, a…a…n…n..n..u ibu ku pingsan! Kata Rima terbata-bata, semua orang yang mendengar penjelasan Rima langsung kaget. Seluruh orang yang bekerja di sawah siang itu segera mengendong ibu Rima dan langsung membawa ibu Rima ke puskesmas ( ya wajar saja kan ?. kan di desa tidak ada sama sekali rumah sakit!)

 

Saat di puskesmas………

 

Huhuhuhuhu…. ibuuu…. “kata Rima sambil mmenangis. “Sudah sabar Rima kamu harus sabar “kata Ima menasihati,”lagi pula tidak ada gunanya juga kan menangis”? Kata Ima sekali lagi menasihati.”Ka..ka..mu benar Ima lagi pula apa guna juga aku menangis”? Jawab Rima yang sedikit masih teriisak. Saat Bu Dokter keluar dari kamar sudah kelihatan sekali dari mimik wajahnya dia tampak sedih. “mengapa ibu berwajah murung”? tanya Ima. E…e…e… ibu harus berbicara dengan Rima sebentar kata bu Dokter yang bernama bu Reshlla itu.”E kamu Rima lima menit lagi keruangan ibu ya?! Kata bu Reshlla. “iya bu”. Balas Rima

 

Lima menit kemudian………….

 

Tok……tok……tok….. suara pintu diketuk oleh Rima. “Permisi apa ini benar ruangan nya bu “Reshlla? Tanya Rima sopan. “ oh iya benar sekali kamu Rima kan?” tanya bu Reshlla,”iya bu benar ada apa ya?. “Hem… hem… ini ibu kamu sebenarnya mempunyai penyakit…. penyakit….penyakit serangan ja…..ja….n…..tu…..n…..g “ kata bu Reshlla terbata-bata.” Apa….? ini pasti tidak mungkin! Tidak munkin kata “Rima masih tidak percaya. “tapi ini kenyataan nak kata Bu Reshlla meyakinkan Rima. “hu…hu…hu… ibu” tangis Rima. “ada apa toh piye toh Rima”? “matamu kok sampean bengkak”? Tanya petani lain. Tanpa menjawab Rima langsung berlari ke keluar dari pusekesmas.

 

si Rima kenapa ya”? Tanya seorang petani yang bertanya kepada seorang bu petani temannya ibu Rima.”saya juga gak tau” jawab bu petani itu cuek.

 

Bersambung…


Oleh: akunisrina | Mei 27, 2012

Hari Kartini

Hari Kartini

 

Hari ini adalah hari Kartini

Hari yang dinanti para perempuan Indonesia.

Dulu kaum hawa tidak bersekolah bersekolah

Tempat mereka satu-satunya hanyalah di dapur

 

Tapi berkat Kartini sekarang Indonesia telah merdeka

Laki-laki mau pun perempuan sekarang bisa sekolah

Terima kasih oh Kartini

Berkat kau sekarang kami bisa sekolah

Terimakasih Kartini

 

 

 

 

Nisrina Taufik – 3B

Oleh: akunisrina | Oktober 30, 2011

Aku dan adiku

Foto Bertiga

Hai namaku Nisrin. ini foto aku dan adik laki-laki dan perempuan.Mereka baik, tapi juga bisa membuat aku marah.tapi mera sangattttt menyenangkan, mereka membuat aku terkadang mereka membuat aku tertawa terbahak-bahak.Itu adik laki-lakiku namanya Danish.Sedangkan kalau adik perempuanku itu sifatnya manja juga feminin,dia selalu mengajaku bermain juga selalu mengikutiku kemana saja loh! (tapi kalau sedang tidak marahan) hehehe.

Kalau aku sih sifat nya ngak feminin ngak tomboy juga jadinya kadang feminin kadang tomboy hihihi. Kalau adik laki-lakiku sih sifatnya kasar juga esop tau ehsalah dah maksud nya esok tau juga suka genit sama temen aku iiiiiiiih.

Nah sampai disini dulu ceritaku tentang keluargaku…..!!!!.

 

Depok, 30 Oktober 2011

Oleh: akunisrina | September 7, 2011

Kelinci yang Sombong

Kelinci yang  Sombong

Pada zaman dahulu ,di sebuah desa ada seorang bangsawan yang Kaya raya ,meskipun kaya raya tetapi dia tidak sombong. Ia mempunyai dua ekor binatang ,yaitu anjing dan kelinci. Kedua binatang nya disayang dengan sepenuh hati, Yang paling ia sayangi adalah kelinci,meskipun sering disayangi oleh

Tuan nya ,semakin hari kelinci akhir nya menjadi sombong dan tinggi hati.Dia sering mengejek anjing, pada suatu hari dia berkata kepada anjing,kulitmu sangat hitam tidak pantas menjadi peliharaan bangsawan. Seperti aku dong ku putih,mulus dan harum .

Kata kelinci dengan nada mengejek,anjing sedih mendengar perkataan kelinci yang sombong, anjing menjadi naik pitam dan dia bersumpah kelinci akan menjadi buruk rupa dan dia akan di buang oleh bangsawan yang telah memelihara nya .Tepat saat kata – kata anjing menjadi kenyataan, kelinci akhir nya menjadi buruk rupa dan di buang oleh majikan nya.

Sejak saat itu kelinci yang dulu nya sombong tidak menjadi sombong lagi .

 

Depok, 7 September 2011

Oleh: akunisrina | September 7, 2011

Puisi #2 “Ibuku”

Ibuku

Kau penerang jalanku

Kau melahirkanku dengan susah payah

Mengandugku Sembilan bulan beratnya

Kau merawatku dengan sepenuh hati

Tapi kenapa aku selalu menyakiti hatimu

Maafkan aku ibu

Depok, 7 September 2011

Oleh: akunisrina | September 4, 2011

Baju Baru

Halo namaku Hellen aku mempunyai adik bernama Hellin, Boleh dibilang kalau dia kembaranku. Aku akan menceritakan saat hari meyenangkan ku!  Suatu pagi aku dan keluargaku akan kerumah nenek ku yang berada, Di Jongja. Kalau kita mau ke jongja kita bisa naik pesawat atau mobil.

Kalau aku sih naik mobil kalau naik mobil menghabiskan waktu satu hari satu malam lama sekalikan!. Jadi aku dan keluargaku  harus menghemat karena aku hanya membawa makanan untuk sarapan,makan malam dan mengemil. Pada malam hari ya aku berhenti membeli bensin karnakan aku dan keluargaku ke Jongja masih setengah hari lagi hehehe.

Setelah papaku selesai mengisi bensin aku berhenti dan parkir ditengah jalan untuk makanmalam selesai makan aku melanjutkan perjalanan ke Jongja   jam sebelas malam sudah tiba aku dan adiku sudah terlelap

Dan ayah ku masih menyetir, jamtiga sudah tiba aku bangun karena kelaparan aku mengambil satu buah permen dan satu buah jeruk yang mama ku bawa adzan subuh pun tiba kami berhenti di pombensin untuk shalat subuh dan isi bensin karna bensi mobil ku sudah hampir habis. Setelah shalat subuh aku segera sarapan seteklah aku selesai sarapan kata papaku aku dan keluaga sudah sampai di Jongja kami tinggal menuju kedesa nenek persimpangan jalan kami berhenti sejenak untuk istirahat sekaligus untuk makan dan minum. Setelah m

akan dan minum papaku bertanya dimana desa sengon maklum kan papaku pelupa hihihi ada-ada saja ya , setelah bertanya kepada seseorang papa (bersambung…)

 

Depok, 4 September 2011

Oleh: akunisrina | September 4, 2011

Damar Wulan

Minakjingga adalah Adipati Blambangan yang memiliki kesaktian tinggi. Suatu ketika, ia berencana untuk memberontak pada Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh seorang raja perempuan yang cantik jelita bernama Ratu Ayu Kencana Wungu. Sang Ratu kemudian mengadakan sayembara untuk menangkal ancaman dari Minakjingga. Salah seorang dari peserta sayembara ini adalah seorang pemuda bernama Damarwulan. Berhasilkah Damarwulan mengalahkan Minakjingga? Simak kisahnya dalam cerita Damarwulan dan Minakjingga berikut ini!

* * *

Tersebutlah seorang ratu bernama Dewi Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana Wungu. Ia adalah penguasa Kerajaan Majapahit yang ke-6. Pada era pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur, itu. Salah satu kerajaan kecil yang menjadi taklukan Majapahit adalah Kerajaan Blambangan yang terletak di Banyuwangi. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang bangsawan dari Klungkung, Bali, bernama Adipati Kebo Marcuet. Adipati ini terkenal sakti dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya seperti kerbau.

Keberadaan Adipati Kebo Marcuet ternyata menghadirkan ancaman bagi Ratu Ayu Kencana Wungu. Meskipun hanya seorang raja taklukan, namun sepak terjang Adipati Kebo Marcuet yang terus-menerus merongrong wilayah kekuasaan Majapahit membuat Ratu Ayu Kencana Wungu cemas. Ratu Majapahit itu pun berupaya menghentikan ulah Adipati Kebo Marcuet dengan mengadakan sebuah sayembara.

“Barangsiapa yang mampu mengalahkan Adipati Kebo Marcuet, maka dia akan kuangkat menjadi Adipati Blambangan dan kujadikan sebagai suami,” demikian maklumat Ratu Ayu Kencana Wungu yang dibacakan di hadapan seluruh rakyat Majapahit.

Sayembara itu diikuti oleh puluhan orang, namun semua gagal mengalahkan kesaktian Adipati Kebo Marcuet. Hingga datanglah seorang pemuda tampan dan gagah bernama Jaka Umbaran yang berasal dari Pasuruan. Ia adalah cucu Ki Ajah Pamengger yang merupakan guru sekaligus ayah angkat Adipati Kebo Marcuet. Rupanya, Jaka Umbaran mengetahui kelemahan Adipati Kebo Marcuet. Maka, dengan senjata pusakanya gada wesi kuning (gada yang terbuat dari kuningan), dan dibantu oleh seorang pemanjat kelapa yang sakti bernama Dayun, Jaka Umbaran berhasil mengalahkan Adipati Kebo Marcuet.

Ratu Ayu Kencana Wungu sangat gembira dengan kekalahan Adipati Kebo Marcuet. Ia pun menobatkan Jaka Umbaran menjadi Adipati Blambangan dengan gelar Minakjingga. Akan tetapi, Ratu Ayu Kencana Ungu menolak menikah dengan Jaka Umbaran karena pemuda itu kini tidak lagi tampan. Akibat pertarungannya dengan Adipati Kebo Marcuet, wajah Jaka Umbaran yang semula rupawan menjadi rusak, kakinya pincang, dan badannya menjadi bongkok.

Jaka Umbaran alias Minakjingga tetap bersikeras menagih janji. Ia datang ke Majapahit untuk melamar Ratu Ayu Kencana Wungu meskipun pada saat itu ia telah memiliki dua selir bernama Dewi Wahita dan Dewi Puyengan. Lamaran Minakjingga bertepuk sebelah tangan karena sang Ratu tetap tidak sudi menikah dengannya.

Penolakan itu membuat Minakjingga murka dan memendam dendam kepada Ratu Ayu Kencana Wungu. Untuk melampiaskan kemarahannya, Minakjingga merebut beberapa wilayah kekuasaan Majapahit sampai ke Probolinggo. Tidak hanya itu, Minakjingga pun berniat untuk menyerang Majapahit. Ratu Ayu Kencana Wungu sangat khawatir ketika mendengar bahwa Minakjingga ingin menyerang kerajaannya. Maka, ia pun kembali menggelar sayembara.

“Barangsiapa yang berhasil membinasakan Minakjingga akan kujadikan suamiku!” ucap Ratu Ayu Kencana Wungu di hadapan seluruh rakyat Majapahit.

Sekali lagi, puluhan pemuda turut serta dalam sayembara tersebut, namun tidak ada satu pun yang berhasil mengungguli kesaktian Minakjingga. Hal ini membuat sang Ratu semakin cemas. Saat kekhawatiran sang Ratu semakin besar, datanglah seorang pemuda tampan bernama Damarwulan. Ia adalah putra Patih Udara, patih Majapahit yang sedang pergi bertapa. Saat itu Damarwulan sedang bekerja sebagai perawat kuda milik Patih Logender, seorang patih Majapahit yang ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayah Damarwulan.

Di hadapan sang Ratu, Damarwulan menyampaikan keinginannya mengikuti sayembara untuk mengalahkan Minakjingga.

“Ampun, Gusti Ratu! Jika diperkenankan, izinkanlah hamba mengikuti sayembara,” pinta Damarwulan.

“Tentu saja, Damarwulan. Bawalah kepala Minakjingga ke hadapanku!” titah sang Ratu.

“Baik, Gusti,” kata pemuda itu seraya berpamitan.

Berangkatlah Damarwulan ke Blambangan untuk menantang Minakjingga.

“Hai, Minakjingga! Jika berani, lawanlah aku!” seru Damarwulan setiba di Blambangan.

“Siapa kamu?” tanya Minakjingga, “Berani-beraninya menantang aku.”

“Ketahuilah, hai pemberontak! Aku Damarwulan yang diutus oleh Ratu Ayu Kencana Wungu untuk membinasakanmu,” jawab Damarwulan.

“Ha… Ha… Ha…!” Minakjingga tertawa terbahak-bahak, “Sia-sia saja kamu ke sini, Damarwulan. Kamu tidak akan mampu menghadapi kesaktian senjata pusakaku, gada wesi kuning!”

Pertarungan sengit antara dua pendekar sakti itu pun terjadi. Keduanya silih-berganti menyerang. Namun, akhirnya Damarwulan kalah dalam pertarungan itu hingga pingsan terkena pusaka gada wesi kuning milik Minakjingga. Damarwulan pun dimasukkan ke dalam penjara.

Rupanya, kedua selir Minakjingga, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan, terpikat melihat ketampanan Damarwulan. Mereka pun secara diam-diam mengobati luka pemuda itu. Bahkan, mereka juga membuka rahasia kesaktian Minakjingga.

“Kekuatan Minakjingga terletak pada gada wesi kuning. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa sejata itu,” kata Dewi Wahita.

“Benar. Jika ingin mengalahkan Minakjingga, Anda harus merampas pusakanya,” tambah Dewi Puyengan.

“Lalu, bagaimana aku bisa merebut senjata pusaka itu?” tanya Damarwulan.

“Kami akan membantumu mendapatkan senjata itu,” janji kedua selir Minakjingga itu.

Pada malam harinya, Dewi Sahita dan Dewi Puyengan mencuri pusaka gada wesi kuning saat Minakjingga terlelap. Pusaka itu kemudian mereka berikan kepada Damarwulan. Setelah memiliki senjata itu, Damarwulan pun kembali menantang Minakjingga untuk bertarung. Alangkah terkejutnya Minakjingga saat melihat sejata pusakanya ada di tangan Damarwulan.

“Hai, Damarwulan! Bagaimana kamu bisa mendapatkan senjataku?” tanya Minakjingga heran.

Damarwulan tidak menjawab. Ia segera menyerang Minakjingga dengan senjata gada wesi kuning yang ada di tangannya. Minakjingga pun tidak bisa melakukan perlawanan sehingga dapat dengan mudah dikalahkan. Akhirnya, Adipati Blambangan itu tewas oleh senjata pusakanya sendiri. Damarwulan memenggal kepada Minakjingga untuk dipersembahkan kepada Ratu Ayu Kencana Wungu.

Dalam perjalanan menuju Majapahit, Damarwulan dihadang oleh Layang Seta dan Layang Kumitir. Kedua orang yang bersaudara itu adalah putra Patih Logender. Rupanya, mereka diam-diam mengikuti Damarwulan ke Blambangan. Saat melihat Damarwulan berhasil mengalahkan Minakjingga, mereka hendak merebut kepala Minakjingga agar diakui sebagai pemenang sayembara.

“Hai, Damarwulan! Serahkan kepala Minakjingga itu kepada kami!” seru Layang Seta.

Damarwulan tentu saja menolak permintaan itu. Pertarungan pun tak terelakkan. Layang Seta dan Layang Kumitir mengeroyok Damarwulan dan berhasil merebut kepala Minakjingga. Kepala itu kemudian mereka bawa ke Majapahit. Pada saat mereka hendak mempersembahkan kepala itu kepada sang Ratu, tiba-tiba Damarwulan datang dan segera menyampaikan kebenaran.

“Ampun, Gusti! Hamba telah berhasil menjalankan tugas dengan baik. Namun, di tengah jalan, tiba-tiba Layang Seta dan Layang Kumitir menghadang hamba dan merebut kepala itu dari tangan hamba,” lapor Damarwulan.

“Ampun, Gusti! Perkataan Damarwulan itu bohong belaka. Kamilah yang telah memenggal kepala Minakjingga,” sanggah Layang Seta.

Pertengkaran antara kedua pihak pun semakin memanas. Mereka sama-sama mengaku yang telah memenggal kepala Minakjingga. Ratu Ayu Kencana Wungu pun menjadi bingung. Ia tidak dapat menenentukan siapa di antara mereka yang benar. Maka, sebagai jalan keluarnya, penguasa Majapahit itu meminta kedua belah pihak untuk bertarung.

“Sudahlah, kalian tidak usah bertengkar lagi!” ujar Ratu Ayu Kencana, “Sekarang aku ingin bukti yang jelas. Bertarunglah kalian, siapa yang berhasil menjadi pemenangnya pastilah ia yang telah membinasakan Minakjingga.”

Akhirnya, mereka pun bertarung. Kali ini, Damarwulan lebih berhati-hati menghadapi kedua putra Patih Logender itu. Ia harus membuktikan kepada sang Ratu bahwa dirinyalah yang benar. Demikian pula Layang Seta dan Layang Kumitir, mereka tidak ingin kebohongan mereka terbongkar di hadapan sang Ratu.

Dengan disaksikan oleh sang Ratu dan seluruh rakyat Majapahit, pertarungan itu pun berlangsung sangat seru. Kedua belah pihak mengeluarkan seluruh kekuatan masing-masing demi memenangkan pertandingan. Pertarungan itu akhirnya dimenangkan oleh Damarwulan. Layang Seta dan Layang Kumitir pun mengakui kesalahan mereka dan dimasukkan ke penjara, sedangkan Damarwulan pun berhak menikah dengan Ratu Ayu Kencana Wungu.

* * *

Demikian cerita Damarwulan dan Minakjingga dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kisah ini terus berkembang menjadi cerita rakyat dengan berbagai versi. Terlepas dari itu, cerita ini juga dikisahkan dalam bentuk sastra seperti dalam Serat Kanda, Serat Damarwulan, Serat Blambangan, dan sebagainya. Cerita tentang Damarwulan dan Minakjingga juga menjadi tema pertunjukan dalam pementasan teater rakyat Jawa Timur. Bahkan, legenda Damarwulan dan Minakjingga ini telah diangkat dalam film layar lebar.

Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita ini antara lain, pertama, sikap suka ingkar janji akan menimbulkan dampak yang buruk, seperti sikap ingkar janji Ratu Ayu Kencana Wungu mengakibatkan pecahnya peperangan antara Majapahit dan Blambangan. Kedua, sifat jahat, yakni suka merampas hak orang lain, terlihat pada perilaku Layang Seta dan Layang Kumitri yang merampas hak Damarwulan sebagai pemenang sayembara. Akibatnya, kedua orang licik itu pun masuk penjara.

 

*) Sumber: http://sdnpuspiptek.wordpress.com/cerita-rakyat/damar-wulan/

Oleh: akunisrina | September 4, 2011

Tanjung Lesung

Tanjung Lesung adalah sebuah nama kampung di daerah Pandeglang, Provinsi Banten. Kampung ini terletak di sebuah tanjung atau daratan yang menjorok ke laut. Menurut cerita, kampung ini dinamakan Tanjung Lesung karena sebuah peristiwa yang terjadi di daerah itu pada masa silam. Peristiwa apakah yang menyebabkan kampung ini dinamakan Tanjung Lesung? Ikuti kisahnya dalam cerita Legeda Tanjung Lesungberikut ini!

* * *

Alkisah, di pesisir Laut Selatan Pulau Jawa, ada seorang pengembara bernama Raden Budog. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Dalam pengembaraannya, ia selalu ditemani oleh seekor anjing dan kuda kesayangannya. Suatu siang, seusai mandi di pantai, Raden Budog beristirahat di bawah sebuah pohon ketapang yang rindang. Buaian angin pantai yang sejuk membuat pemuda itu begitu cepat terlelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi mengembara ke utara dan bertemu dengan seorang gadis cantik jelita. Kecantikan gadis itu membuat hatinya terpesona. Ia melihat gadis itu tersenyum manis seraya mengulurkan tangannya. Namun, saat ia hendak menyambut uluran tangan gadis itu tiba-tiba sebuah ranting kering jatuh mengenai dahinya. Ia pun terkejut dan langsung terbangun dari tidurnya. Raden Budog membanting ranting itu keras-keras karena merasa geram tidak bisa melanjutkan mimpi indahnya.

Sejak peristiwa itu, hati Raden Budog tidak tenang karena senyum manis gadis itu selalu terbayang di pelupuk matanya. Walaupun hanya mimpi, namun ia merasa bahwa pertemuannya dengan gadis seperti kenyataan. Oleh karena penasaran, ia pun memutuskan pergi mengembara ke utara untuk mencari gadis impiannya. Setelah menyiapkan perbekalan secukupnya, Raden Budog memacu kuda kesayangannya menuju ke arah utara, sementara anjingnya berjalan di depan sambil mengendus-endus mencari jalan bagi tuannya.

Setelah berhari-hari berjalan menapaki jalan-jalan terjal, tibalah Raden Budog di sebuah tempat tinggi yang dikenal bernama Tali Alas atau yang kini disebut Pilar. Dari tempat itulah, Raden Budog dapat melihat pemandangan samudera biru yang membentang luas dan pantai yang indah. Sejenak, ia beristirahat di tempat itu sambil menikmati bekalnya yang masih tersisa. Sementara itu, kudanya dibiarkan mencari rumput segar dan anjingnya asyik berburu burung puyuh yang banyak berkeliaran di antara semak-semak.

Setelah dirasa cukup beristirahat, Raden Budog melanjutkan perjalanannya menuju ke pantai, yakni yang dikenal dengan sebutan Pantai Cawar. Setiba di pantai itu, Raden Budog turun dari kudanya kemudian berlari menuju pantai dan terjun ke laut.

“Waaah, sejuk sekali air pantai ini!” ujar Raden Budog sambil membasuh mukanya dengan air laut.

Sejuknya air di Pantai Cawar benar-benar menghilangkan rasa lelah Raden Budog. Setelah badannya kembali segar, pemuda itu pergi ke muara sungai yang ada di sekitar pantai untuk membasuh tubuhnya dengar air tawar. Ia lalu menghampiri kuda dan anjingnya yang duduk di tepi pantai dengan maksud hendak melanjutkan pengembaraan. Tidak seperti biasanya, ketika melihat tuan mereka, kedua binatang tersebut segera menyapa dengan ringkikan atau gonggongannya. Namun, kali ini mereka tidak bergerak sedikit pun seolah tidak perduli ajakan tuan mereka. Raden Budog pun merasa heran melihat perilaku kedua hewan sahabatnya itu.

“Ayo cepat berdiri, kita lanjutkan perjalanan!” seru Raden Budog.

Anjing dan kudanya itu tetap saja tidak bergerak. Rupanya, kedua hewan tersebut sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang sehingga menggerakkan badan pun sulit mereka lakukan.

“Baiklah, jika kalian tidak mau menuruti perintahku dan tetap diam seperti karang, akan kutinggalkan kalian di sini,” ucap Raden Budog dengan kesal.

Ucapan Raden Bodug itu rupanya menjadi kenyataan. Kuda dan anjingnya tiba-tiba menjelma menjadi batu karang. Akhirnya, Raden Budog terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki seorang diri. Tekadnya tetap membara. Yang ada dalam pikiran Raden Budog hanyalah sang gadis pujaan yang ditemuinya dalam mimpi itu.

Raden Budog terus berjalan tanpa mengenal lelah. Ia juga tidak menghiraukan pakaiannya yang lusuh dan badannya kotor berdebu. Ketika tiba di sebuah sungai, ia terpaksa menghentikan perjalanannya karena sungai itu sedang banjir besar.

“Ah, lebih baik aku beristirahat dulu di sini sambil menunggu banjir itu surut,” gumam Raden Bugog seraya merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu besar yang ada di tepi sungai.

Baru saja Raden Budog merebahkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar bunyi lesung dari seberang sungai. Ia pun terperanjat dan hatinya berdebar kencang.

“Aku yakin, di seberang sungai ini terdapat kampung, tempat tinggal gadis itu,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Raden Budog tidak sabar lagi menunggu banjir itu surut karena ingin segera bertemu dengan gadis pujaannya. Akhirnya, ia terpaksa menyeberangi sungai itu walaupun banjir belum surut. Dengan segenap tenaga yang dimiliki, ia pun berhasil menyeberangi sungai itu. Saat tiba di pintu masuk kampung tersebut, Raden Budog memutuskan untuk beristirahat sejenak guna memulihkan tenaganya sambil mengamati keadaan sekitar.

Beberapa saat kemudian, alunan bunyi lesung yang merdu dari dalam kampung itu kembali terdengar. Hati Raden Budog semakin berdebar kencang karena merasa gadis itu semakin dekat di hatinya. Ia pun segera berdiri dan melangkah menuju ke sumber bunyi lesung tersebut. Semakin jauh ia masuk ke dalam perkampungan, bunyi lesung semakin keras terdengar. Begitu ia tiba di depan sebuah rumah, tampaklah gadis-gadis kampung sedang asyik bermain lesung atau ngagondang. Kebiasaan bermain lesung tersebut sudah merupakan tradisi penduduk kampung itu saat akan menanam padi. Namun, tradisi itu tidak mereka lakukan jika bertepatan hari Jumat, karena hari Jumat dianggap sebagai hari keramat.

Sementara itu, Raden Budog terpesona menyaksikan tangan gadis-gadis tersebut yang begitu lincah dan terampil mengayunkan dan menumbukkan alu ke dalam lesung secara bergantian. Alangkah terpesonanya lagi saat ia melihat seorang gadis yang cantik jelita sedang mengayunkan tangannya sekaligus memberi aba-aba pada gadis-gadis lain. Rupanya, gadis yang bernama Sri Poh Haci itu adalah pemimpin dari kelompok gadis-gadis yang bermain ngagondang.

“Itulah gadis yang pernah hadir dalam mimpiku,” Raden Budog membatin.

Betapa senangnya hati Raden Budog karena gadis yang selama ini ia cari kini ada di depan matanya. Ia pun terus memandang gadis itu tanpa berkedip sedikit pun. Sementara itu, Sri Poh Haci yang merasa ada yang memperhatikan segera memberikan isyarat kepada teman-temannya agar menghentikan permainan ngagondang. Gadis-gadis itu pun berhenti memainkan alu di tangannya seraya bergegas pulang ke rumah masing-masing, termasuk Sri Poh Haci. Setiba di rumahnya, Sri Poh Haci disambut oleh ibunya.

“Kenapa permainan lesungnya hanya sebentar, anakku?” tanya ibu Sri Poh Haci yang biasa dipanggil Nyi Siti.

“Tadi ada seorang pemuda tampan yang belum pernah aku lihat. Dia memperhatikanku terus saat bermain ngadondang. Aku kan jadi malu, Bu,” jelas Sri Poh Haci.

Baru saja mereka membicarakan pemuda asing itu, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dan disusul suara seorang laki-laki.

Sampurasun…, permisi…”

Rampes…,” jawab ibu Sir Poh Haci seraya menuju ke ruang depan untuk membukakan pintu.

Begitu Nyi Siti membuka pintu, tampaklah seorang pemuda tampan dan gagah perkasa sedang berdiri di depan pintu.

“Maaf kalau kedatangan saya mengganggu. Bolehkah saya menginap di rumah ibu?” pinta pemuda itu yang tak lain adalah Raden Budog.

Betapa terkejut Nyi Siti mendengar permintaan pemuda yang tidak dikenalnya itu.

“Maaf, kisanak ini siapa dan berasal dari mana? Mengapa kisanak ingin menginap di rumah saya? Kami belum mengenal kisanak,” tanya Nyi Siti curiga. Raden Budog pun lantas memperkenalkan diri.

“Nama saya Raden Budog, Bu. Saya seorang pengembara dan kebetulan mampir di kampung ini. Jika diperkankan, izinkanlah saya untuk menginap di rumah ibu,” pinta Raden Budog kembali.

“Maaf, Raden. Penghuni rumah ini hanya saya dan anak gadis saya. Saya tidak berani menerima tamu laki-laki, apalagi jika menginap,” jawab Nyi Siti tegas seraya menutup pintu.

Rupanya, Nyi Siti tidak senang dengan sikap Raden Budog yang dianggap terlalu lancang ingin menginap di rumahnya. Sementara itu, Raden Budog merasa kesal karena permintaannya ditolak oleh perempuan paruh baya itu. Karena hari sudah mulai gelap, ia pun memutuskan untuk beristirahat di bale-bale bambu yang berada di dekat rumah Nyi Siti.

“Ah, sebaiknya aku tidur di sini saja,” gumam Raden Budog seraya merebahkan tubuhnya di atas bale-bale bambu itu.

Pemuda pengembara itu pun tertidur pulas. Dalam tidurnya, ia bermimpi diizinkan menginap di rumah itu. Namun, bukan Nyi Siti yang mengizinkannya, melainkan Sri Poh Haci. Di tengah-tengah menikmati mimpi indahnya, tiba-tiba hidungnya merasakan wangi kopi yang menyegarkan. Begitu ia membuka matanya, tampak matahari sudah muncul di ufuk timur dan seorang gadis cantik berdiri di sampingnya.

“Silakan diminum kopinya, Raden!” kata gadis itu.

“Hai, nama kamu siapa? Dan dari mana kamu tahu namaku?” tanya Raden Budog pura-pura tidak tahu bahwa gadis itu pastilah anak Nyi Siti.

“Namaku Sir Poh Haci, anak Nyi Siti,” jawab sang gadis memperkenalkan diri.

Rupanya, diam-diam Sri Poh Haci pun jatuh hati kepada Raden Budog yang tampan itu. Setelah beberapa hari tinggal di kampung tersebut, Raden Budog berhasil menjalin kasih dengan Sri Poh Haci dan mereka pun bersepakat untuk menikah. Sebenarnya, Nyi Siti tidak setuju jika anaknya menikah dengan pemuda yang tidak diketahui asal-usulnya. Apalagi, ia tahu bahwa pemuda itu keras kepala. Namun, karena tidak ingin mengecewakan hati anaknya, ia pun terpaksa merestui pernikahan mereka.

Setelah menikah dengan Sri Poh Haci, Raden Budog pun menetap di kampung itu. Setiap kali istrinya bermain lesung bersama gadis-gadis kampung, ia selalu datang menyaksikannya karena senang mendengar nada lesung itu dan sesekali belajar memainkan lesung. Semakin lama, Raden Budog semakin senang bermain lesung sehingga terkadang lupa waktu. Saking senangnya, ia tetap bermain lesung walaupun pada hari Jumat. Padahal, istrinya sudah memberi tahu sebelumnya bahwa bermain lesung pada Jumat sangat dipantangkan.

Berkali-kali para tetua kampung memperingatkan akan hal itu, namun Raden Budog yang keras kepala itu tidak menghiraukannya dan tetap bermain lesung di hari Jumat. Perilaku Raden Budog semakin menjadi-jadi, ia terus menabuh lesung sambil melompat-lompat kegirangan ke sana ke mari seperti seekor lutung (kera hitam berekor panjang).

“Lihat… lihat! Ada lutung bermain lesung!” teriak para warga.

Rupanya, Raden Budog tidak menyadari jika dirinya telah menjadi seekor lutung. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat tangan dan kakinya telah penuh dengan bulu-bulu. Setelah meraba wajahnya dan merasa penuh dengan bulu, ia pun langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam hutan di pinggir kampung tersebut. Sejak itu, Raden Budog menjadi lutung dan tidak pernah lagi kembali ke wujud aslinya sebagai manusia.

Sementara itu, Sri Poh Haci merasa sangat malu atas peristiwa tersebut. Oleh karena tidak kuat menanggung malu, ia pun pergi dari kampung halamannya secara diam-diam dan hilang entah ke mana. Menurut cerita, Sri Poh Haci telah menjelma menjadi Dewi Padi. Untuk mengenang kemahiran Sri Poh Haci bermain lesung, penduduk setempat menyebut kampung itu dengan nama Kampung Lesung. Karena berlokasi di sebuah tanjung, maka kampung itu diberi nama Tanjung Lesung.

* * *

Demikian cerita Legenda Kampung Lesung dari daerah Banten. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang keras kepala seperti Raden Budog akan menanggung akibat dari sifat itu. Karena sifat keras kepalanya dan tidak mau mendengar nasehat para tetua kampung untuk berhenti bermain lesung pada hari Jumat yang dikeramatkan, akibatnya Raden Budog pun menjelma menjadi seekor lutung.

Oleh: akunisrina | September 4, 2011

Pangeran Pande Gelang

Pande Gelang adalah seorang pangeran tampan dan sakti mandraguna. Suatu ketika, seluruh ilmu dan kesaktiannya dicuri oleh teman seperguruannya sendiri yang bernama Pangeran Cunihin. Dengan kesaktian tersebut, Pangeran Cunihin mengubah Pangeran Pande Gelang menjadi seorang tua karena ingin merebut kekasih Pangeran Pande Gelang yang bernama Putri Cadasari. Mampukah Pangeran Pande Gelang merebut kembali kesaktiannya dari Pangeran Cunihin? Ikuti kisahnya dalam cerita Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari berikut ini!

* * *

Alkisah, di daerah Banten, ada seorang putri raja bernama Putri Arum. Wajahnya cantik nan rupawan. Kulit dan hatinya lembut selembut sutra. Tidak mengherankan jika banyak pangeran yang ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Dari sekian banyak pangeran, tersebutlah dua orang pangeran yang ingin menjalin kasih dengan sang putri. Kedua pangeran tersebut adalah Pangeran Sae Bagus Lana dan Pangeran Cunihin. Mereka teman seperguruan, namun memiliki sifat yang berbeda. Sesuai dengan nama mereka, kata Sae Bagus Lana dalam bahasa Sunda berarti laki-laki yang baik hati, sedangkan Cunihin berarti laki-laki yang suka menggoda wanita. Mengetahui perawakan kedua pangeran tersebut, maka Putri Arum memilih Pangeran Sae Bagus Lana sebagai kekasihnya.

Rupanya, Pangeran Cunihin tidak rela menerima kenyataan tersebut. Secara diam-diam, ia iri hati dan dendam terhadap Pangeran Sae Bagus Lana sehingga timbullah niatnya untuk mencuri ilmu dan kesaktian Pangeran Sae Bagus Lana agar dapat merebut Putri Arum. Alhasil, Pangeran Cunihin berhasil melaksanakan niatnya. Dengan kesaktian tersebut, ia kemudian mengubah wajah Pangeran Sae Bagus Lana menjadi seorang tua dan berkulit hitam legam.

Sementara itu, Pangeran Sae Bagus Lana yang sudah tidak berdaya datang menghadap kepada gurunya untuk meminta petunjuk. Ia pun disarankan oleh gurunya untuk membuat sebuah gelang besar yang bisa dilewati manusia. Gelang itulah yang dapat mengalahkan Pangeran Cunihin. Jika Pangeran Cunihin melewati gelang tersebut maka seluruh kesaktiannya akan lenyap dan kembali kepada Pangeran Sae Bagus.

Setelah mendengar nasehat sang guru, Pangeran Sae Bagus Lana pergi ke sebuah kampung untuk menjadi seorang pembuat gelang atau “pande gelang” tanpa sepengetahuan Putri Arum. Sejak itulah, ia pun dipanggil dengan nama Pande Gelang. Penduduk setempat akrab memanggilnya Ki Pande.

Suatu hari, ketika melintas di Bukit Manggis, Pande Gelang melihat seorang gadis cantik duduk termenung seorang diri. Rupanya, gadis itu tidak asing lagi baginya. Ia adalah Putri Arum yang sedang bersedih karena tidak ingin menikah dengan Pangeran Cunihin yang terkenal kejam dan bengis itu. Meskipun ia tahu kalau gadis itu kekasihnya, Pangeran Sae Bagus Lana tidak ingin membongkar penyamarannya agar sang kekasih tidak bertambah sedih.

Sampurasun!” sapa Pande Gelang.

Ra… rampes,” jawab sang putri dengan terkejut.

“Maaf jika hamba telah mengejutkan Tuan Putri,” kata Pande Gelang seraya memberi hormat.

Sang putri tidak segera menjawab. Ia hanya terpaku mengamati lelaki yang belum dikenalnya itu. Meskipun wajah lelaki yang berkulit legam itu tampak kusam, sang putri yakin bahwa orang itu berwatak baik. Ia mengumpamakan lelaki itu bagaikan buah manggis, walaupun hitam dan pahit kulitnya tetapi putih dan manis buahnya. Dengan keyakinan itu, sang putri tidak segan untuk menjawab sapaan lelaki setengah baya itu.

“Maaf, Aki siapa dan berasal dari mana?” tanya sang putri.

“Nama hamba Pande Gelang. Orang-orang memanggil hamba Ki Pande,” jawab lelaki itu. “Maaf Tuan Putri. Sekiranya hamba boleh tahu mengapa Tuan Putri tampak gundah gulana?” tanyanya.

Sang putri kembali terdiam sambil meneteskan air mata. Ia ingin menceritakan kegundaan hatinya, namun sungguh berat untuk mengungkapkannya. Sang putri merasa bahwa tidak ada gunanya menceritakan masalah kepada orang lain karena tak seorang pun yang dapat membantunya.

“Oh, maaf jika pertanyaan hamba tadi telah menyinggung perasaan Tuan Putri”, ucap Ki Pande seraya hendak berlalu.

Ketika Pande Gelang akan meninggalkan tempat itu, sang putri mencegah langkahnya.

“Tunggu, jangan pergi dulu Ki!” cegah Putri Arum. “Baiklah, Ki. Saya akan bercerita, tetapi sekadar untuk mengilangkan rasa penasaran Ki Pande. Selama ini saya tidak pernah menceritakan masalah ini kepada orang lain karena hanya akan sia-sia belaka,” kata sang putri.

“Mengapa Tuan Putri berkata demikian?” tanya Pande Gelang.

“Masalah yang saya hadapi saat ini sangat berat Ki,” ungkap sang putri.

Putri Arum kemudian bercerita bahwa dirinya sedang mendapat tekanan dari Pangeran Cunihin.

“Saya sangat sedih Ki, karena Pangeran Cunihin memaksa saya untuk menjadi istrinya. Meskipun ia tampan, tetapi saya tidak menyukai wataknya yang bengis dan kejam. Namun, saya tidak berdaya untuk menghadapinya karena ia sangat berkuasa dan sakti mandraguna,” ungkap Putri Arum.

Sejenak Pande Gelang tertegun. Hatinya sangat geram mendengar sikap dan perilaku Pangeran Cunihin yang semakin menjadi-jadi. Ia tidak sabar lagi ingin menghajar pangeran bengis itu. Meski demikian, ia tetap berusaha menyembunyikan amarah dan mencoba untuk menenangkan hati kekasihnya itu.

“Hamba turut bersedih, Tuan Putri,” ucap Pande Gelang berlinang air mata.

“Terima kasih Ki atas keprihatinannya. Tadinya saya mengira wangsit yang saya terima benar adanya,” ungkap Putri Arum.

“Maaf, Tuan Putri. Wangsit apa yang Tuan Putri maksud?” tanya Pande Gelang.

“Menurut wangsit yang saya terima melalui mimpi bahwa saya harus menenangkan diri di bukit ini. Kelak akan ada seorang pengeran yang baik hati dan sakti mandraguna yang datang menolong saya. Namun, harapan itu hampir sirna. Sudah sekian lama saya menanti kedatangan dewa penolong itu namun tak kunjung tiba. Padahal, tiga hari lagi Pangeran Cunihin akan datang untuk memaksa saya menikah dengannya,” keluh Putri Arum.

Pande Gelang kembali tertegun. Ia menyadari bahwa dewa penolong yang dimaksud sang putri adalah dirinya.

“Maaf, Tuan Putri. Kalau boleh hamba menyarankan, sebaiknya Tuan Putri mau menerima keinginan Pangeran Cunihin itu,” ujar Pande Gelang.

Mulanya sang putri menolak saran itu karena bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan Pangeran Cunihin yang sangat dibencinya itu. Namun, setelah lelaki itu menjelaskan bahwa sang putri tidak menerimanya begitu saja tetapi dengan syarat yang berat, akhirnya sang putri mau menerima saran itu. Syarat tersebut adalah Pangeran Cunihin harus melubangi batu keramat hingga bisa dilalui manusia. Selain itu, batu keramat itu harus diletakkan di sekitar pantai sebelum dilubangi. Untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut memerlukan waktu tiga hari. Dengan demikian, tentu saja setengah dari kesaktian Pangeran Cunihin akan hilang.

“Lalu, bagaimana selanjutnya Ki?” tanya Putri Arum setelah mendengar pejelasan itu.

“Tuan Putri tidak usah khawatir. Urusan selanjutnya serahkan kepada hamba,” ujar Pande Gelang.

Mendengar seluruh penjelasan Pande Gelang, maka semakin yakinlah sang putri untuk menerima saran tersebut.  Setelah itu, Pande Gelang kemudian mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya untuk mengatur siasat. Perjalanan menuju ke tempat tinggal Pande Gelang ternyata cukup jauh dan melelahkan sehingga membuat Putri Arum jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas saat akan tiba di kampung Pande Gelang. Mengetahui hal itu, penduduk kampung segera membantu Pande Gelang membawa Putri Arum ke salah satu rumah penduduk yang terdekat. Mereka pun merawat sang putri dengan penuh kasih sayang. Menurut tetua kampung, sang putri akan segera pulih jika ia meminum air gunung yang memancar melalui batu cadas itu.

Alhasil, setelah meminum air dari batu cadas tersebut, Putri Arum kembali sehat. Sejak itulah, penduduk kampung memanggil Putri Arum dengan sebutan Putri Cadasari. Setelah itu, sang putri segera mengatur siasat bersama Pande Gelang untuk mengelabui Pengeran Cunihin.

Keesokan harinya, Putri Cadasari kembali ke istana dengan diantar oleh beberapa penduduk kampung. Sementara itu, Pande Gelang sibuk membuat sebuah gelang besar untuk dikalungkan pada batu keramat.

Pada hari yang telah ditentukan, datanglah Pangeran Cunihin mengajak Putri Arum untuk menikah dengannya. Putri Arum pun mengajukan syarat sebagaimana yang disarankan oleh Pande Gelang.

“Kamu boleh menikahiku, tapi dengan satu syarat kamu harus membawa batu cadas ke pantai lalu melubanginya,” jelas Putri Arum.

“Ha, sungguh mudah syaratmu itu Tuan Putri. Tapi, apa maksud dari syaratmu itu?” tanya Pangeran Cunihin.

“Batu keramat itu untuk bulan madu kita Pangeran. Kita bisa duduk di atas batu itu sambil menikmati indahnya pemandangan laut. Bukankah itu sangat menyenangkan Pangeran?” jelas Putri Cadasari.

“Oh, sungguh bulan madu yang menyenangkan. Tuan Putri memang seorang putri yang romantis,” puji Pangeran Cunihin.

Tanpa perasaan curiga lagi, Pangeran Cunihin segera melaksanakan syarat itu. Dalam waktu tiga hari, ia berhasil menemukan batu keramat yang disyaratkan dan kemudian membawanya ke sebuah pantai yang indah. Setelah berhasil melubangi batu keramat itu, Pangeran Cunihin segera ke istana untuk menjemput Putri Cadasari.

Sementara itu, Pande Gelang yang sejak tadi bersembunyi di balik semak-semak mengamati semua tingkah laku Pangeran Cunihin, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera memasang gelang besar pada batu keramat yang berlubang itu. Namun, ketika ia hendak kembali ke tempat persembunyiannya, tanpa diduganya Pangeran Cunihin telah kembali bersama Putri Cadasari.

“Hai, tua bangka! Apa yang kamu lakukan di sini?” bentak Pangeran Cunihin.

“Saya datang kemari untuk merebut kembali kesaktian dan Puti Arum yang kamu rampas dariku,” kata Pande Gelang.

“Hai, bukankah aku pernah mengatakan bahwa kamu tidak pantas menjadi pemenang. Lihatlah sang putri telah menjadi milikku untuk selamanya, hahaha…!” ujar Pangeran Cunihin seraya tertawa terbahak-bahak.

Putri Cadasari sungguh heran mendengar pembicaraan kedua orang itu. Sepertinya mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Baru saja ia hendak menanyakan hal itu kepada mereka, tiba-tiba Pengeran Cunihin menarik tangannya untuk melihat batu keramat yang telah dilubanginya itu.

“Lihatlah, wahai Tuan Putri! Keinginan Tuan Putri terlah terwujud. Sungguh sebuah tempat yang indah dan romantis untuk bulan madu kita,” kata Pangeran Cunihin.

Dengan sikap tenang, Putri Cadasari mencoba untuk menunjukkan kegembiraannya seraya menjalankan siasat yang telah diatur bersama Pande Gelang.

“Maaf, Pangeran. Barangkali saya terlalu gembira sehingga tidak bisa melihat lubang pada batu keramat ini. Sudikah Pangeran membuktikan bahwa batu ini telah berlubang?” pinta Putri Cadasari.

Tanpa berpikir panjang, Pangeran Cunihin segera berjalan melewati lubang pada batu keramat. Baru beberapa langkah ia berjalan di dalam lubang batu itu, tiba-tiba seluruh tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Ia pun berteriak keras karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit. Begitu ia selesai melewati lubang itu, seluruh kekuatannya hilang sehingga ia hanya bisa duduk lemas tak berdaya. Beberapa saat kemudian, ia pun berubah menjadi seorang tua renta seolah telah melewati lorong waktu yang begitu panjang.

Pada saat yang bersamaan, Pande Gelang merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Akhirnya, seluruh ilmu dan kesaktiannya kembali seperti semula. Wajahnya pun kembali seperti sediakala, yaitu wajah seorang pangeran yang tampan.

Putri Cadasari seolah-olah tidak percaya menyaksikan peristiwa ajaib itu. Ia baru sadar bahwa ternyata lelaki paruh baya yang telah menolongnya itu adalah kekasihnya sendiri, Pangeran Sae Bagus Lana.

Akang, bagaimana semua ini bisa terjadi?” tanya Putri Cadasari dengan heran.

Pangeran Pande Gelang pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya mulai dari peristiwa Pangeran Cunihin mencuri kesaktiannya hingga peristiwa ajaib itu terjadi. Mendengar cerita itu, barulah sang putri sadar bahwa wangsit yang ia terima memang benar adanya. Akhirnya, mereka pun meninggalkan batu keramat itu. Beberapa waktu kemudian, mereka menikah dan hidup bahagia.

* * *

Demikian cerita legenda Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari dari daerah Pandeglang, Banten, Indonesia. Hingga saat ini, tempat Pangeran Cunihin mengambil  batu keramat dikenal dengan nama Kramatwatu, sedangkan pesisir pantai tempat di mana batu keramat yang berlubang itu berada dikenal dengan Karang Bolong. Sementara itu, tempat sang putri melaksanakan wangsit di Bukit Manggis dikenal dengan Kampung Pasir Manggu. Kata manggu yang berasal dari bahasa Sunda berarti Manggis, sedangkan kata pasir berarti bukit. Selanjutnya, tempat Putri Cadasari pingsan kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang. Sementara itu, tempat Pangeran Pande Gelang membuat gelang dikenal dengan nama Pandeglang.

Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas bahwa sifat iri hati akan membuat seseorang melakukan perbuatan jahat seperti Pangeran Cunihin. Oleh karena sifat iri hati dan dengki, ia tega melakukan perbuatan apa saja, bahkan menghianati temannya sendiri. Akibatnya, seluruh kesaktian Pangeran Cunihin hilang dan berubah menjadi seorang tua renta yang tak berdaya

 

*) Sumber: http://sdnpuspiptek.wordpress.com/cerita-rakyat/pangeran-pande-gelang/

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.